Lazada Indonesia

Makalah Cedera Otak Berat

2.1 Definisi

Cidera otak berat adalah kerusakan neurologis yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (Price, 1995).

2.2 Etiologi

Cidera kepala dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya adalah :

  1. oleh benda / serpihan tulang yang menembus jaringan otak misal : kecelakaan, dipukul dan terjatuh.
  2. trauma saat lahir misal : sewaktu lahir dibantu dengan forcep atau vacum.

2.3 Klasifikasi

Klasifikasi yang mendekati keadaan klinis adalah berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS), yaitu skala untuk menilai secara kuantitatif tingkat kesadaran seseorang dan kelainan neurolagis yang terjadi. Seperti yang diajukan oleh Rimel dkk adalah :

1. Cedera kranioserebral ringan (mild head imjury) bila GCS berkisar antara 13-15.

2. Cedera kranioserebral sedang (moderate head injury) bila GCS berkisar antara 9-12.

3. Cedera kranioserebral berat (severe head injury) bila skor GCS 8 atau kurang.

Ada pula klasifikasi cedera otak, berdasarkan lamanya amnesia pasca-trauma seperti yang dikemukakan oleh Ritchie Russel sebagai berikut:

1. Sangat ringan : lama amnesia <5menit

2. Ringan : <1jam

3. Sedang : 1 hingga 24 jam

4. Berat : 1 hingga 7 hari

5. Sangat berat : >7 hari

6. Amat sangat berat : >4 minggu

2.4 Patofisiologi

Patofisiologi menurut Markum (1999) trauma pada kepala menyebabkan tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi tergantung pada besarnya getaran makin besar getaran makin besar kerusakan yang timbul, getaran dari benturan akan diteruskan menuju Galia aponeurotika sehingga banyak energi yang diserap oleh perlindungan otak, hal itu menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan haematoma epidural, subdural, maupun intracranial, perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplay oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan odema cerebral. Akibat dari haematoma diatas akan menyebabkan distorsi pada otak, karena isi otak terdorong ke arah yang berlawanan yang berakibat pada kenaikan TIK (Tekanan Intra Kranial) merangsang kelenjar pituitari dan steroid adrenal sehingga sekresi asam lambung meningkat akibatnya timbul rasa mual dan muntah dan anaroksia sehingga masukan nutrisi kurang

Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi. Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.

2.5 Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda klinis yang dapat timbul akibat trauma kepala adalah sebagai berikut:

1. Penurunan kesadaran

2. Peningkatan tekanan intrakranial, tanda klinisnya:

a Denyut nadi meningkat

b Penurunan tekanan darah

c Kedalaman pernafasan berkurang dan lambat

d Penurunan skor skala koma Glasgow

e Dilatasi pupil, hilangnya reflek pupil atau pupil yang asimetris

3. Fraktur kranium, tanda klinisnya:

a. Hematoma periobita (mata panda)

b. Memar disekitar area mastoideus (tanda Battle)

c. Keluarnya cairan serebrospinal dari hidung, telinga, dan laserasi di sekitar fraktur

d. Pembengkakan kulit kepala yang terlihat menonjol

e. Perdarahan subkonjungtiva tanpa batas posterior

5. Disfungsi sensori

6. Kejang otot

7. Sakit kepala

10. Kejang

11. Syok hipovolemik menunjukkan kemungkinan cedera multisistem

(Brito, 1996)

2.6 Komplikasi

1. Epilepsi pasca trauma

Epilaepsi pasca trauma adalah suatu kelainan dimana kejang terjadi beberapa waktu setelah otak mengalami cedera karena benturan di kepala. Kejang merupakan respon terhadap muatan listrik abnormal didalam otak.

2. Afasia

Afasia adalah hilangnya kemampuan untuk menggunakan bahasa karena terjadinya cedera pada area bahasa di otak. Bagian otak yang mengendalikan fungsi bahasa adalah lobus temporalis sebelah kiri dan bagian lobus frontalis disebelahnya.

3. Appraksia

Apraksia adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas yang memerlukan ingatan atau serangkaian gerakan, disebabkan oleh kerusakan pada lobus parietalis atau lobus frontalis.

4. Agnosia

Agnosia merupakan suatu kelainan dimana penderita dapat melihat dan merasakan sebuah benda tetapi tidak dapat menghubungkannya dengan peran atau fungsi normal dari benda tersebut. Penyebab dari kelainan ini adalah kelainan fungsi pada lobus parietalis dan temporalis.

5. Amnesia

Amnesia adalah hilangnya sebagian atau seluruh kemampuan untuk mengingat peristiwa yang baru saja terjadi atau peristiwa yang sudah lama berlalu.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

1. CT scan (Computer Tomography scan)

Mengidentifikasi adanya hemoragic, ukuran ventrikuler, infark pada jaringan mati.

2. Foto tengkorak atau cranium (Foto Rotgen)

Untuk mengetahui adanya fraktur pada tengkorak

3. MRI (Magnetic Resonan Imaging)

Gunanya untuk sebagai pengindraan yang mempergunakan gelombang electromagnetic.

4. Laboratorium

Kimia darah : mengetahui ketidakseimbangan elektrolit

2.8 Penatalaksanaan Kegawatdaruratan

1. Cervical Spine Immobilization

Semua pasien yang mengalami trauma oleh tekanan benda tumpul harus dianggap mengalami trauma pada tulang leher hingga terbukti lain. Imobilisasi tulang leher meliputi pemilihan cervical colar yang ukurannya sesuai sehingga pas pada leher, mengunci kepala, tahan lama dan aman untuk pasien. Imobilisasi tulang leher selama evalusi dengan menggunakan manual stabilisasi dan log rolling. Jangan menggunakan traksi pada tulang leher (Ausband, 2004).

2. Airway

Intubasi orotrakeal lebih dipilih karena sulitnya teknik intubasi nasotrakeal yang dapat menyebabkan perdarahan, peningkatan tekanan intrakranial dan kemungkinan masuknya pipa endotrakeal melalui lempeng cribiform yang fraktur ke dalam otak. Jika intubasi orotrakeal tidak berhasil, lakukan krikotiroidotomi. Gunakan alat sementara, seperti laryngeal mask airway pada pasien yang sulit diintubasi. Lakukan intubasi ketika mempertahankan manual in-line cervical immobilization tanpa menggunakan traksi. Intubasi harus segera dilakukan pada semua pasien. Ketika sedatif dan paralitik telah memberikan efek, pindahkan cervical collar dan pertahankan stabilisasi manual. Setelah intubasi, pasang kembali cervical collar.

3. Breathing

Setelah jalan nafas aman dengan intubasi, kaji status pernafasan pasien dengan gas darah arteri. Gunakan serial gas darah arteri atau monitor end-tidal carbondioxide untuk mempertahankan level PCO2 arteri dalam batas fisiologis.

4. Circulation

Hipotensi dihubungkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas pada pasien trauma. Tangani syok dengan cepat dengan memberikan Ringer laktat atau normal salin dan priduk darah apabila diperlukan. Hindari pemberian cairan hipotonik dan yang mengandung glukosa. Peningkatan tekanan darah yang diikuti dengan bradikardi merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial

5. Disability

Lakukan pengukuran GCS pada semua pasien dengan trauma kepala. Ulangi pengukuran GCS secara berkala selama pengkajian. Ukur juga respon pupil, kesimetrisannya(Ausband, 2004).

6. Exposure

Pada semua pasien trauma, pasien harus dilepas pakainnya dan seluruh bagian tubuh diperiksa, termasuk bagian punggung. Ketika pemeriksaan awal telah selesai, berikan pasien selimut hangat. Hindari hipotermia dengan menjaga ruangan tetap hangat dan memberikan selimut dan cairan hangat.

7. Seizure

Pada pasien kejang dapat diberikan profilaksis kejang yaitu fenitoin, fosfenitoin atau karbamazepin untuk dewasa dan fenobarbital untuk anak-anak. Pada pasien kejang post trauma akut diberikan lorazepam, fenitoin, fosfenitoin atau fenobarbital untuk mencegah memburuknya hipoksemia dan mencegah trauma kepala sekunder.

8. Pain Control

Nyeri pada evaluasi awal jangan langsung memberikan sedatif dan analgesik. Narkotik dan benzodiazepin merupakan pengobatan yang aman dan efektif sebagai sedatif dan analgesik dan harus digunakan pada dosis yang tinggi. Pasien yang diintubasi harus diberikan analgesik dan sedatif yang cukup.

9. Hipertensi sistemik

Jika tekanan darah meningkat, evaluasi pasien untuk pemberian sedatif dan analgesik.

10. Hipertensi Intrakranial.

Berikan manitol untuk mengurangi peningkatan tekanan intrakranial. Pertahankan osmolalitas serum di bawah 320 mOsm. Peningkatan osmolalitas serum diatas 320 mOsm dapat meningkatkan edema serebral.

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More